Pengertian Struktur Tanah

Pengertian Struktur Tanah

Struktur Tanah

Struktur tanah merupakan gumpalan-gumpalan kecil dari tanah akbiat melekatnya butir-butir tanah satu samalain. Satu unit struktur disebut ped. Apabila unit-unit struktur tersebut tidak terbentuk maka dikatakan bahwa tanah tersebut tidak berstruktur. Dalam hal ini ada dua kemungkinan yaitu : 1) Butir tunggal (single grain) = butir-butir tanah tidak melekat satu sama lain (contoh tanah pasir); 2) Pejal (massive) = buitr-butir tanah melekat satu sama lain dengan kuat sehingga tidak membentuk gumpalan-gumpalan (ped).

Penyipatan strukur tanah meliputi 3 hal yaitu bentuk, tingkat perkembangan dan ukuran.

a.       Bentuk struktur

Bentuk struktur tanah dibedakan menjadi :

Baca lebih lanjut

DEFINISI TANAH, FUNGSI DAN PROFIL TANAH

DEFINISI TANAH, FUNGSI DAN PROFIL TANAH

Definisi Tanah

1. Pendekatan Geologi (Akhir Abad XIX)

Tanah: adalah lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah
mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk regolit
(lapisan partikel halus).

2. Pendekatan Pedologi (Dokuchaev 1870)

Pendekatan Ilmu Tanah sebagai Ilmu Pengetahuan Alam Murni. Kata Pedo =i gumpal
tanah.
Tanah: adalah bahan padat (mineral atau organik) yang terletak dipermukaan bumi,
yang telah dan sedang serta terus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-
faktor: Bahan Induk, Iklim, Organisme, Topografi, dan Waktu.

3. Pendekatan Edaphologis (Jones dari Cornel University Inggris)

Kata Edaphos = bahan tanah subur.

Tanah adalah media tumbuh tanaman

Perbedaan Pedologis dan Edaphologis

1. Kajian Pedologis:

Mengkaji tanah berdasarkan dinamika dan evolusi tanah secara alamiah atau
berdasarkan Pengetahuan Alam Murni.
Kajian ini meliputi: Fisika Tanah, Kimia Tanah, Biologi tanah, Morfologi Tanah,
Klasifikasi Tanah, Survei dan Pemetaan Tanah, Analisis Bentang Lahan, dan Ilmu
Ukur Tanah.

Baca lebih lanjut

SISTEM TAKSONOMI TANAH

SISTEM TAKSONOMI TANAH

TAKSONOMI TANAH

1.1 RIWAYAT

Sistem Taksonomi Tanah yang dulu dikenal dengan istilah “A Comprehensive System of Soil Classification 7 th Approximation”  diperkenalkan pertama kali pada tahun 1960 dalam Konggres Tanah Internasional ke-7 di hadison (Wisconsin) Amerika Serikat oleh Dr. Guy D Smith. Sistem tersebut disebut Comprehensive system karena (diharapkan) dapat digunakan seluruh tanah di dunia, untuk berbagai bidang ilmu yang berhubungan dengan tanah. Disebut 7 th Approximation karena sistem tersebut dibuat dengan beberapa kali perbaikan dan ini adalah perbaikan yang ke-7. First Approximation dimulai pada tahun 1951. Sampai pada 2nd Approximation naskahnya hanya diedarkan terbatas dalam lingkungan ahli-ahli tanah di Amerika. Berdasarkan atas tanggapan dan saran-saran para ahli tersebut kemudian disusun perbaikan-perbaikan berikutnya. Mulai dari 2nd Approximation naskah diedarkan lebih luas baik di Amerika Serikat maupun ke negara-negara di luar Amerika. Di samping itu di Amerika dilakukan pula uji coba terhadap sistim tersebut dalam kegunaannya untuk survey tanah. Dengan menampung ke dalam sitim ini semua saran dan pendapat dari ahli-ahli tanah berbagai negara yang masing-masing mempunyai pengetahuan dan pengalaman terhadap jenis tanah yang berlainan, maka diharapkan sistim ini dapat memenuhi kebutuhan klasifikasi tanah seluruh dunia.

Taksonomi Tanah bukan merupakan perbaikan yang terakhir, tetapi hanya merupakan pendekatan (approximation) untuk mendapatkan tanggapan dan kritik dan untuk di uji lebih lanjut.

Baca lebih lanjut

Mekanisasi Pertanian

Mekanisasi Pertanian

A.  BIOGAS

Biogas merupakan salah satu penerapan dari system pertanian terintergasi atau yang lebih dikenal dengan sebutan simantri. System simntri ini merupakan gebrakan baru dari pemerintah yang mengoptimalkan pertanian dengan peternakan. Dengan mengunakan system ini petani diharapkan dapat mengolah limbah lebih bermanfaat lagi seperti dalam pembuatan biourin maupun pupuk organic lainya.

Biogas ini adalah proses produksi energi berupa gas yang berjalan melalui proses biologis. Biogas ini dapat diperoleh dari bahan organik melalui proses “kerja sama” dari tiga kelompok mikroorganisme anaerob yaitu;

1.      Mikroba yang dapat menghidrolisis polimer-polimer organik dan sejumlah lipid menjadi monosakarida, asam-asam lemak, asam-asam amino, dan senyawa kimia sejenisnya.

2.      Mikroorganisme yang mampu memfermentasi produk yang dihasilkan kelompok mikroorganisme pertama menjadi asam-asam organik sederhana seperti asam asetat.

3.      Mikroorganisme yang mengubah hidrogen dan asam asetat hasil pembentukan acidogen menjadi gas metan dan karbondioksida. Mikroorganisme penghasil gas metan ini hanya bekerja dalam kondisi anaerob dan dikenal dengan nama metanogen. Salah satu mikroorganisme penting dalam kelompok metanogen ini adalah mikroorganisme yang mampu memanfaatkan (utilized) hidrogen dan asam asetat.

Baca lebih lanjut

Peranan Bahan Organik Terhadap Kesuburan Tanah

 Peranan Bahan Organik Terhadap Kesuburan Tanah

Bahan organik sangat berpengaruh bagi proposi tanah sebagai sumber pasokan hara tanah, pasokan ini akan menyebabkan perubahan sifat fisik, biologi, dan kimia tanah. Dampak yang akan terjadi pada tanah yaitu akan mengurangi ketersediaan bahan organik dalam tanah, sehingga tanaman tidak dapat tumbuah dengan baik, dan akan menyebabkan tanah mengeras. Syarat tanah dapat dijadikan sebagai tempat tumbuh tanamaan yaitu memiliki bahan organik yang cukup serta fisik dan kimia yang baik, karena keadaan fisik dan kimia ini akan mempengaruhi perakaran tanaman dan mampu sebagai tempat airasi dan lengas tanah semua hal tersebut berkaitan dengan bahan organik. Tanah yang memiliki kandungan bahan organik rendah akan mempengaruhi sifat fisik yang meliputi: struktur, konsistensi, porositas, daya mengikat air, dan yang tak kalah penting yaitu ketahanan terhadap erosi.

Peran bahan organik bagi kesuburan tanah dapat di bagi menjadi tiga kata gori yaitu:

Baca lebih lanjut

Mengapa Harus Pertanian Organik

Mengapa Harus Pertanian Organik

Pertanian yang kitalakukan masa ini dominanya adalah sebuah pertanian kompensyonal, yaitu pertanian yang masih tergantung atau mengunakan bahan kimia, berupa pestisida maupun pupuk kimia. Tentunya dengan mengunakan teknik ini pencemaran lingkungan bukan hal yang tidak mungkin terjadi karena yang di titik beratkan pada pertanian ini adalah hasil. Hasil yang tentunya didapat pada pertanian ini adalah residu dan bahan beracun akibat pestisida. Setelah diktahun hal ini tentunya tibul konsep baru agar mengurangi pencemaran tersebut. Sehingga lahirla pertanian ramah lingkungan sebagai trobosan dari pemecahan masalah tersebut. Dan salah satu dari system pertanian ramah lingkungan ini adalah pertanian organic yang sedang gencarnya dibicarakan orang – orang.

Pertanian organic bukanlah suatu system pertanian yang baru bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. System pertanian ini sebenarnya sudah kita lakukan sebelumnya (sebelum pertanian konpensyonal masuk ke Indonesia). Pertanian organic merupakan pertanian yang minimal pencemaran bahkan mentiadakanya tanpa harus mengurangi pendapatan dari petani. pertanian organic ini sudah dilakukan oleh kakek nenek kita dulu, sebelum Indonesia membeli pupuk kimia dari luar negeri. Sehingga seharusnya pertanian ini tidak menjadi hal yang susah untuk diterapkan.

Baca lebih lanjut

PERTANIAN ORGANIK

PERTANIAN ORGANIK

Petanian Organik adalah sebuah bentuk solusi baru guna menghadapi kebuntuan yang dihadapi Petani sehubungan dengan maraknya intervensi barang-barang sintetis atas dunia pertanian sekarang ini. Dapat kita saksikan, mulai dari pupuk, insektisida, perangsang tumbuh, semuanya telah dibuat dari bahan-bahan yang disintesis dari senyawa-senyawa murni (biasanya un organik) di laboratorium.

 

Itu semua memang tak selamanya jelek, tetapi pada tempo yang panjang (apalagi jika digunakan dengan tidak hati-hati dan tidak tepat dosis), dimana akumulasi bahan-bahan tersebut menjadi jenuh di tanah, terbukti telah menjadi masalah yang sangat serius. Rantai makanan yang tadinya selalu berputar karena proses degradasi yang baik, tiba-tiba menjadi mandek karena ketidak mampuan alam (bakteri) untuk meluruhkan bahan-bahan sintetis tersebut. Kita sudah mulai melihat kecenderungan tanah menjadi asam dan pengerasan tanah yang disebabkan oleh pupuk urea. Resistennya hampir semua jenis hama terhadap insektisida dan menuntut penggunaan bahan yang berintensitas lebih tinggi untuk dapat membunuhnya. Baca lebih lanjut